Selasa, 17 November 2020

Perubahan pola prilaku konsumen

             Penyebarannya Covid-19 yang cepat membuat beberapa negara menerapkan kebijakan untuk memberlakukan lockdown untuk mencegah penyebaran virus Corona. Di Indonesia, pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan penyebaran virus ini.Terhitung mulai tanggal 29 Februari 2020 hingga 29 Mei 2020 terkait pandemi ini (Koesmawardhani, 2020)..

Dalam Ebook Consumer Behaviour New Normal After Covid-19 terdapat 4 pergeseran besar prilaku konsumen setelah Covid-19 selesai. Saya sangat terterik dengan Online-Shopping Widening+ Deepening: From Wants to Needs. Dimana orang-orang yang biasanya berbelanja secara offline atau datang ke toko berubah menjadi online shopping. Lalu dalam buku tersebut juga dijelaskan “Pergeseran perilaku konsumen ke arah pembelian online terhadap barang kebutuhan sehari-hari seperti groceries, sembako, maupun daily needs akan meningkatkan volume pasar online secara sangat siknifikan. Bagi perusahaan-perusahaan yang menyediakan barang-barang tersebut, kini waktunya menerapakan model channel DTC (direct-tocustomer), tak hanya sebatas mengandalkan marketplace yang sudah ada. Ingat, ”channel is the brand” (Yuswohady,Fattahilah,Racmaniar,Hanifa.2020). Selain itu ada nya perubahan yang menetap seperti memakai masker sebagai fasion, lalu adanya empati yang tinggi terhadap sesama manusia, hal ini dapat di liat dari membagikan makanan atau sembako pada masyarakat yang tidak mampu. Contoh dalam hal ini adalah Razia makanan yang di gagas oleh dr.Tirta

Lalu pembelian konsumen atau suatu produk yang tadi nya hanya bersifat ke inginan berubah menjadi bersifat kebutuhan. Contohnya adalah membeli sembako,vitamin, dan lain-lain. Hal tersebut mengingatkan kita pada teori maslow dimana terdapat hirarki kebutuhan manusia



Dalam perilaku konsumen. Pembeli harus mengambil keputusan dalam membeli, maka dari itu ada nya perubahan pembelian yang tadi nya bersifat keinginanan menjadi bersifat kebutuhan. Menurut Lake 2009 dalam bukunya berjudul Consumer behavior for dummies menyatakan  proses pengambilan keputusan memiliki lima tahap dalam setiap pembelian, baik itu produk atau layanan. Karena proses pengambilan keputusan adalah proses kognitif, itu lebih bersifat psikologis.

Ø  Fase 1: Butuh pengakuan dan kesadaran

Dalam fase ini, konsumen mengenali dan menjadi sadar bahwa dia memiliki kebutuhan.

Ø  Fase 2: Mencari informasi

Dalam fase ini, konsumen mulai mencari informasi mengenai solusi untuk kebutuhan yang telah diidentifikasi. Intensitas pencarian tergantung pada apakah pembelian tersebut merupakan masalah besar bagi konsumen (atau bukan masalah besar).

Ø  Fase 3: Mengevaluasi alternatif

Dalam fase ini, konsumen mengevaluasi setiap solusi alternatif untuk menentukan solusi mana yang terbaik untuknya.

Ø  Fase 4: Pembelian

Dalam fase ini, konsumen mengevaluasi di mana dan kapan harus membeli dan melakukan pembelian. Jika kebutuhannya tidak bagus dan solusi yang ditemukan konsumen tidak cukup menarik untuk memotivasi pembelian, konsumen dapat menunda pembelian sampai muncul peluang yang memuaskan.

Ø  Fase 5: Evaluasi pasca pembelian

Dalam tahap ini, konsumen mengevaluasi pembeliannya dan memutuskan apakah dia puas dengan pembelian tersebut. Dia mungkin juga mengalami penyesalan pembeli dalam fase ini.

 

Lalu timbulah sebuah pertanyaan apakah ada pola konsumen berubah atau perubahan lebih dikaitkan dengan kondisi saja atau akan ada perubahan yang akan tetap?

Menurut saya perubahan bisa dikaitkan dengan kondisi juga karena ada faktor sosial di dalamnya. Menurut Rath, Bay, Gill, & Petrizzi (2014) terdapat jenis pengaruh sosial, yaitu:

·         Pengaruh Sosial Normatif, jenis tekanan yang mengharuskan seseorang menyesuaikan diri dengan harapan orang lain. orang mungkin menyesuaikan diri untuk menghindari penolakan atau untuk mendapatkan penerimaan. Contoh nya seperti kita biasa membeli makanan atau makan di pinggir jalan, tetapi ketika ada pendemi seperti ini pemerintah menghimbau untuk membeli makanan via online dan tidak makan di tempat.

·         Pengaruh sosial informasional memengaruhi kita saat kita meniru perilaku orang lain karena mereka secara langsung atau tidak langsung menawarkan informasi untuk membantu dalam pengambilan keputusan kita. “Pemeriksaan sosial” adalah istilah lain yang menjelaskan jenis pengaruh ini

 

Kesimpulan

Dalam prilaku konsumen setelah covid 19 ini. Terdapat banyak perubahan mulai dari gaya hidup,fasion, dan perilaku konsumen. Dalam hal prilaku konsumen keputusan pembelian yang dahulunya berdasarkan sifat keinginan sekarang berubah menjadi bersifat ke butuhan. Lalu faktor kondisi berpengaruh untuk merubah pola prilaku konsumen. Yang mana hal tersebut adalah salah satu dari faktor sosial.

 

 

Referensi:

Lake, L. (2009). Consumer behavior for dummies. John Wiley & Sons.

Rath, P. M., Bay, S., Gill, P., & Petrizzi, R. (2014). The why of the buy: Consumer behavior and fashion marketing. Bloomsbury Publishing.

Solomon, M. R (2018). Consumer behavior: Buying, having, and being. Boston, MA: Pearson.

Yuswohady, Fatahillah. F, Rachmaniar. A & Hanifah. I. (2020). Consumer Behavior New Normal After Covid-19. Inventur Knowledge

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar