Penyebarannya Covid-19 yang cepat membuat beberapa negara menerapkan kebijakan untuk memberlakukan lockdown untuk mencegah penyebaran virus Corona. Di Indonesia, pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan penyebaran virus ini.Terhitung mulai tanggal 29 Februari 2020 hingga 29 Mei 2020 terkait pandemi ini (Koesmawardhani, 2020)..
Dalam Ebook Consumer Behaviour New Normal After Covid-19
terdapat 4 pergeseran besar prilaku konsumen setelah Covid-19 selesai. Saya
sangat terterik dengan Online-Shopping
Widening+ Deepening: From Wants to Needs. Dimana orang-orang yang biasanya
berbelanja secara offline atau datang ke toko berubah menjadi online shopping. Lalu
dalam buku tersebut juga dijelaskan “Pergeseran perilaku konsumen ke arah
pembelian online terhadap barang kebutuhan sehari-hari seperti groceries,
sembako, maupun daily needs akan meningkatkan volume pasar online secara sangat
siknifikan. Bagi perusahaan-perusahaan yang menyediakan barang-barang tersebut,
kini waktunya menerapakan model channel DTC (direct-tocustomer), tak hanya
sebatas mengandalkan marketplace yang sudah ada. Ingat, ”channel is the brand”
(Yuswohady,Fattahilah,Racmaniar,Hanifa.2020). Selain itu ada nya perubahan yang
menetap seperti memakai masker sebagai fasion, lalu adanya empati yang tinggi
terhadap sesama manusia, hal ini dapat di liat dari membagikan makanan atau
sembako pada masyarakat yang tidak mampu. Contoh dalam hal ini adalah Razia
makanan yang di gagas oleh dr.Tirta
Lalu pembelian konsumen atau suatu
produk yang tadi nya hanya bersifat ke inginan berubah menjadi bersifat kebutuhan.
Contohnya adalah membeli sembako,vitamin, dan lain-lain. Hal tersebut
mengingatkan kita pada teori maslow dimana terdapat hirarki kebutuhan manusia
Dalam perilaku konsumen. Pembeli harus
mengambil keputusan dalam membeli, maka dari itu ada nya perubahan pembelian
yang tadi nya bersifat keinginanan menjadi bersifat kebutuhan. Menurut Lake 2009 dalam bukunya berjudul Consumer behavior for dummies menyatakan proses pengambilan
keputusan memiliki lima tahap dalam setiap pembelian, baik itu produk atau
layanan. Karena proses pengambilan keputusan adalah proses kognitif, itu lebih
bersifat psikologis.
Ø Fase 1: Butuh pengakuan dan kesadaran
Dalam
fase ini, konsumen mengenali dan menjadi sadar bahwa dia memiliki kebutuhan.
Ø Fase 2: Mencari informasi
Dalam
fase ini, konsumen mulai mencari informasi mengenai solusi untuk kebutuhan yang
telah diidentifikasi. Intensitas pencarian tergantung pada apakah pembelian
tersebut merupakan masalah besar bagi konsumen (atau bukan masalah besar).
Ø Fase 3: Mengevaluasi alternatif
Dalam
fase ini, konsumen mengevaluasi setiap solusi alternatif untuk menentukan
solusi mana yang terbaik untuknya.
Ø Fase 4: Pembelian
Dalam
fase ini, konsumen mengevaluasi di mana dan kapan harus membeli dan melakukan
pembelian. Jika kebutuhannya tidak bagus dan solusi yang ditemukan konsumen
tidak cukup menarik untuk memotivasi pembelian, konsumen dapat menunda
pembelian sampai muncul peluang yang memuaskan.
Ø Fase 5: Evaluasi pasca pembelian
Dalam
tahap ini, konsumen mengevaluasi pembeliannya dan memutuskan apakah dia puas
dengan pembelian tersebut. Dia mungkin juga mengalami penyesalan pembeli dalam
fase ini.
Lalu timbulah sebuah pertanyaan apakah ada pola konsumen berubah atau perubahan
lebih dikaitkan dengan kondisi saja atau akan ada perubahan yang akan tetap?
Menurut saya perubahan bisa
dikaitkan dengan kondisi juga karena ada faktor sosial di dalamnya. Menurut
Rath, Bay, Gill, & Petrizzi (2014) terdapat jenis pengaruh sosial, yaitu:
·
Pengaruh Sosial Normatif, jenis tekanan yang
mengharuskan seseorang menyesuaikan diri dengan harapan orang lain. orang
mungkin menyesuaikan diri untuk menghindari penolakan atau untuk mendapatkan
penerimaan. Contoh nya seperti kita biasa membeli makanan atau makan di pinggir
jalan, tetapi ketika ada pendemi seperti ini pemerintah menghimbau untuk membeli
makanan via online dan tidak makan di tempat.
·
Pengaruh sosial informasional memengaruhi kita saat
kita meniru perilaku orang lain karena mereka secara langsung atau tidak
langsung menawarkan informasi untuk membantu dalam pengambilan keputusan kita.
“Pemeriksaan sosial” adalah istilah lain yang menjelaskan jenis pengaruh ini
Kesimpulan
Dalam prilaku konsumen setelah covid
19 ini. Terdapat banyak perubahan mulai dari gaya hidup,fasion, dan perilaku
konsumen. Dalam hal prilaku konsumen keputusan pembelian yang dahulunya
berdasarkan sifat keinginan sekarang berubah menjadi bersifat ke butuhan. Lalu faktor
kondisi berpengaruh untuk merubah pola prilaku konsumen. Yang mana hal tersebut
adalah salah satu dari faktor sosial.
Referensi:
Lake,
L. (2009). Consumer behavior for dummies. John Wiley & Sons.
Rath, P. M., Bay, S., Gill, P., & Petrizzi, R.
(2014). The why of the buy: Consumer behavior and fashion marketing.
Bloomsbury Publishing.
Solomon, M. R (2018). Consumer behavior: Buying,
having, and being. Boston, MA: Pearson.
Yuswohady,
Fatahillah. F, Rachmaniar. A & Hanifah. I. (2020). Consumer Behavior New
Normal After Covid-19. Inventur Knowledge

