Selasa, 17 November 2020

Perubahan pola prilaku konsumen

             Penyebarannya Covid-19 yang cepat membuat beberapa negara menerapkan kebijakan untuk memberlakukan lockdown untuk mencegah penyebaran virus Corona. Di Indonesia, pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan penyebaran virus ini.Terhitung mulai tanggal 29 Februari 2020 hingga 29 Mei 2020 terkait pandemi ini (Koesmawardhani, 2020)..

Dalam Ebook Consumer Behaviour New Normal After Covid-19 terdapat 4 pergeseran besar prilaku konsumen setelah Covid-19 selesai. Saya sangat terterik dengan Online-Shopping Widening+ Deepening: From Wants to Needs. Dimana orang-orang yang biasanya berbelanja secara offline atau datang ke toko berubah menjadi online shopping. Lalu dalam buku tersebut juga dijelaskan “Pergeseran perilaku konsumen ke arah pembelian online terhadap barang kebutuhan sehari-hari seperti groceries, sembako, maupun daily needs akan meningkatkan volume pasar online secara sangat siknifikan. Bagi perusahaan-perusahaan yang menyediakan barang-barang tersebut, kini waktunya menerapakan model channel DTC (direct-tocustomer), tak hanya sebatas mengandalkan marketplace yang sudah ada. Ingat, ”channel is the brand” (Yuswohady,Fattahilah,Racmaniar,Hanifa.2020). Selain itu ada nya perubahan yang menetap seperti memakai masker sebagai fasion, lalu adanya empati yang tinggi terhadap sesama manusia, hal ini dapat di liat dari membagikan makanan atau sembako pada masyarakat yang tidak mampu. Contoh dalam hal ini adalah Razia makanan yang di gagas oleh dr.Tirta

Lalu pembelian konsumen atau suatu produk yang tadi nya hanya bersifat ke inginan berubah menjadi bersifat kebutuhan. Contohnya adalah membeli sembako,vitamin, dan lain-lain. Hal tersebut mengingatkan kita pada teori maslow dimana terdapat hirarki kebutuhan manusia



Dalam perilaku konsumen. Pembeli harus mengambil keputusan dalam membeli, maka dari itu ada nya perubahan pembelian yang tadi nya bersifat keinginanan menjadi bersifat kebutuhan. Menurut Lake 2009 dalam bukunya berjudul Consumer behavior for dummies menyatakan  proses pengambilan keputusan memiliki lima tahap dalam setiap pembelian, baik itu produk atau layanan. Karena proses pengambilan keputusan adalah proses kognitif, itu lebih bersifat psikologis.

Ø  Fase 1: Butuh pengakuan dan kesadaran

Dalam fase ini, konsumen mengenali dan menjadi sadar bahwa dia memiliki kebutuhan.

Ø  Fase 2: Mencari informasi

Dalam fase ini, konsumen mulai mencari informasi mengenai solusi untuk kebutuhan yang telah diidentifikasi. Intensitas pencarian tergantung pada apakah pembelian tersebut merupakan masalah besar bagi konsumen (atau bukan masalah besar).

Ø  Fase 3: Mengevaluasi alternatif

Dalam fase ini, konsumen mengevaluasi setiap solusi alternatif untuk menentukan solusi mana yang terbaik untuknya.

Ø  Fase 4: Pembelian

Dalam fase ini, konsumen mengevaluasi di mana dan kapan harus membeli dan melakukan pembelian. Jika kebutuhannya tidak bagus dan solusi yang ditemukan konsumen tidak cukup menarik untuk memotivasi pembelian, konsumen dapat menunda pembelian sampai muncul peluang yang memuaskan.

Ø  Fase 5: Evaluasi pasca pembelian

Dalam tahap ini, konsumen mengevaluasi pembeliannya dan memutuskan apakah dia puas dengan pembelian tersebut. Dia mungkin juga mengalami penyesalan pembeli dalam fase ini.

 

Lalu timbulah sebuah pertanyaan apakah ada pola konsumen berubah atau perubahan lebih dikaitkan dengan kondisi saja atau akan ada perubahan yang akan tetap?

Menurut saya perubahan bisa dikaitkan dengan kondisi juga karena ada faktor sosial di dalamnya. Menurut Rath, Bay, Gill, & Petrizzi (2014) terdapat jenis pengaruh sosial, yaitu:

·         Pengaruh Sosial Normatif, jenis tekanan yang mengharuskan seseorang menyesuaikan diri dengan harapan orang lain. orang mungkin menyesuaikan diri untuk menghindari penolakan atau untuk mendapatkan penerimaan. Contoh nya seperti kita biasa membeli makanan atau makan di pinggir jalan, tetapi ketika ada pendemi seperti ini pemerintah menghimbau untuk membeli makanan via online dan tidak makan di tempat.

·         Pengaruh sosial informasional memengaruhi kita saat kita meniru perilaku orang lain karena mereka secara langsung atau tidak langsung menawarkan informasi untuk membantu dalam pengambilan keputusan kita. “Pemeriksaan sosial” adalah istilah lain yang menjelaskan jenis pengaruh ini

 

Kesimpulan

Dalam prilaku konsumen setelah covid 19 ini. Terdapat banyak perubahan mulai dari gaya hidup,fasion, dan perilaku konsumen. Dalam hal prilaku konsumen keputusan pembelian yang dahulunya berdasarkan sifat keinginan sekarang berubah menjadi bersifat ke butuhan. Lalu faktor kondisi berpengaruh untuk merubah pola prilaku konsumen. Yang mana hal tersebut adalah salah satu dari faktor sosial.

 

 

Referensi:

Lake, L. (2009). Consumer behavior for dummies. John Wiley & Sons.

Rath, P. M., Bay, S., Gill, P., & Petrizzi, R. (2014). The why of the buy: Consumer behavior and fashion marketing. Bloomsbury Publishing.

Solomon, M. R (2018). Consumer behavior: Buying, having, and being. Boston, MA: Pearson.

Yuswohady, Fatahillah. F, Rachmaniar. A & Hanifah. I. (2020). Consumer Behavior New Normal After Covid-19. Inventur Knowledge

 

Rabu, 11 November 2020

Analisi Prilaku Konsumen pada video clip Virzha-Aku lelakimu

 

Pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang perilaku konsumen pada video clip lagu virzha yang berjudul “Aku lelakimu”. Dalam video clip tersebut di ceritakan bahwa virzha sebagai penyanyi dan peran utama dalam video clip mempunyai kekasih yang sangat mencintai nya. Dalam video clip tersebut virzha juga menyampaikan rasa sayangnya dengan menulis lagu “aku lelakumu” untuk kekasih nya. Namun di saat lagu tersebut belum sepenuhnya jadi. Virzha dan kekasih nya mengalami kecelakaan mobil yang menyebabkan mata kekasihnya tersebut mengalami kebutaan. Beberapa hari setelah kejadian itu kekasihnya merasa tidak apa apa karna mungkin diagnosis dari dokter mata dari kekasih nya tersebut bisa sembuh lagi. Namun di lihat pada menit 2.20 disitu dokter menjelaskan kepada vizha bahwa mata dari kekasih nya tersebut tidak bisa sembuh lalu pada menit 2.50 kekasih nya stres dilihat dari dia marah terhadap virzha. Dan pada menit 3.17 kekasihnya mendapatkan donor mata dari orang yang tidak di kenal. Setahun kemudian kekasih nya yang mungkin sudah menjadi mantannya bertemu lagi dengan virzha di taman di saat dia sedang mengamen. Dari situ terungkap bahwa pendonor mata untuk kekasih nya itu adalah virzha nya sendiri.

Cerita di atas adalah gambaran tentang video clip virzha yang berjudul “aku lelakimu” dari sini kita dapat melihat bagaimana peranan prilaku konsumen yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan. Salah satu nya adalah dengan cara pengambilan keputusan virzha untuk mendonorkan matanya kepada kekasihnya.

Menurut Lake 2009 dalam bukunya berjudul Consumer behavior for dummies menyatakan  proses pengambilan keputusan memiliki lima tahap dalam setiap pembelian, baik itu produk atau layanan. Karena proses pengambilan keputusan adalah proses kognitif, itu lebih bersifat psikologis.

Ø  Fase 1: Butuh pengakuan dan kesadaran

Dalam fase ini, konsumen mengenali dan menjadi sadar bahwa dia memiliki kebutuhan.

Analisis :

Dalam fase ini virzha mengetahui tanggung jawab dia terhadap pasangannya karena dia yang menyebabkan mata dari si kekasihnya tersebut buta akibat kecelakaan mobil.

Ø  Fase 2: Mencari informasi

Dalam fase ini, konsumen mulai mencari informasi mengenai solusi untuk kebutuhan yang telah diidentifikasi. Intensitas pencarian tergantung pada apakah pembelian tersebut merupakan masalah besar bagi konsumen (atau bukan masalah besar).

Analisis:

Dalam fase ini virzha mulai memikirkan apakah dia akan mendonorkan matanya atau tidak. Dilihat dari setelah dia tau bahwa mata dari kekasihnya tidak bisa di sembuhkan lagi

Ø  Fase 3: Mengevaluasi alternatif

Dalam fase ini, konsumen mengevaluasi setiap solusi alternatif untuk menentukan solusi mana yang terbaik untuknya.

Analisis:

Dalam fase ini virzha meyakinkan pilihan nya untuk mendonorkan matanya kepada kekasih nya dengan berdiskusi dengan dokter yang menangani kekasih nya tersebut.

Ø  Fase 4: Pembelian

Dalam fase ini, konsumen mengevaluasi di mana dan kapan harus membeli dan melakukan pembelian. Jika kebutuhannya tidak bagus dan solusi yang ditemukan konsumen tidak cukup menarik untuk memotivasi pembelian, konsumen dapat menunda pembelian sampai muncul peluang yang memuaskan.

Analisis:

Fase ini virzha yakin bahwa dia akan mendonorkan matanya kepada kekasihnya dan siap menerima apa saja yang akan terjadi kedepannya salah satu nya adalah dia akan buta seumur hidupnya

Ø  Fase 5: Evaluasi pasca pembelian

Dalam tahap ini, konsumen mengevaluasi pembeliannya dan memutuskan apakah dia puas dengan pembelian tersebut. Dia mungkin juga mengalami penyesalan pembeli dalam fase ini.

 

Analisis:

Dilihat dalam video clip setelah virzha mendonorkan mata nya kepada kekasih nya dia pun menghilang dan tidak mengasih tau kepada kekasih nya bahwa dia lah pendonor tersebut karena mungkin dia tidak mau kekasih nya tau dan menyesal akibat omongan yang dia berikan kepada virzha di menit 2.50 bahwa virzha tidak mengerti tentang perasaannya.

 

Rath, Bay, Gill, & Petrizzi, 2015 juga berpendapat meskipun konsumen mungkin tidak menyadarinya, kebanyakan orang melalui lima langkah dasar saat membuat keputusan (1) mengenali atau mengidentifikasi masalah, (2) mengumpulkan informasi tentang solusi alternatif, (3) mengevaluasi alternatif, (4) memilih alternatif terbaik, dan (5) mengevaluasi keputusan.

 

Dari hasil penelitian Rath,dkk (2015) juga dapat di sangkut pautkan dengan video clip virzha tersebut. Yang mana langkah awalnya adalah (1) virzha mengidentifikasi masalah yaitu mata dari kekasihnya buta akibat kecelakaan mobil (2) dia berbincang kepada dokter solusi apa yang terbaik untuk kekasihnya. (3) dia mengevaluasi pilihan untuk mendonorkan mata nya. (4) setelah mengevaluasi pilihannya dia menetapkan pilihannya yaitu dengan mendonorkan matanya kepada kekasih nya. (5) secara sadar dan tidak sadar dia mengevaluasi keputusan mendonorkan mata nya kepada kekasih nya yaitu dengan meninggalkan dia supaya kekasih sadar bahwa virzha adalah orang yang paling mengerti diri nya.

 

 

Refrensi

Lake, L. (2009). Consumer behavior for dummies. John Wiley & Sons.

Pramana.,I.,I (2020) Proses Pengambilan Keputusan konsumen di kutip di http://ikhsanizulhaq.blogspot.com/2020/10/proses-pengambilan-keputusan-konsumen.html  pada tanggal 11 November 2020 Pukul 13.00

Rath, P. M., Bay, S., Gill, P., & Petrizzi, R. (2014). The why of the buy: Consumer behavior and fashion marketing. Bloomsbury Publishing.

Solomon, M. R. (2018). Consumer behavior: Buying, having, and being (12th ed.). Pearson

virzha - aku lelakimu / mv (2014) https://www.youtube.com/watch?v=st4V-R05WIk&ab_channel=alfarecords

Selasa, 03 November 2020

METODOLOGI RISET DI PERILAKU KONSUMEN

METODOLOGI RISET DI PERILAKU KONSUMEN

Pada kali ini kita akan membahas tetang Metodologi Riset di Prilaku Konsumen. Kita akan membahas mengenai apa si metodologi riset di prilaku konsumen, lalu hal hal apa saja yang ada di dalam materi kali ini, tentu saja kegunaan nya akan kita bahas juga pada kesempatan kali ini. Langsung saja kita mulai!!

Lake 2009 pada buku nya yg berjudul Consumer behavior for dummies berpendapat bahwa peneliti harus memahami riset yang telah diklasifikasikan menjadi kategori. Pengelompokan tersebut bertujuan untuk mempermudah memilih metode apa yang paling efektif untuk suatu penelitian tersebut. Lake 2009 mengklasifikasikan fokus riset/penelitian pasar dalam satu kategori, yaitu :

Ø  Riset eksplorasi

Ini adalah klasifikasi riset yang digunakan jika masalah belum teridentifikasi dengan jelas. Ini membantu menentukan desain penelitian terbaik, metode pengumpulan data, dan pemilihan responden. Klasifikasi penelitian eksplorasi seringkali bergantung pada penelitian sekunder (penelitian dari sumber luar, termasuk laporan penelitian yang sudah jadi, surat kabar, majalah, isi jurnal, dan statistik organisasi pemerintah dan nonpemerintah.)

Ø  Penelitian deskriptif

Penelitian ini juga dikenal sebagai penelitian statistik. Penelitian ini digunakan untuk mendeskripsikan data dan karakteristik populasi yang kita pelajari. Ini sering dilakukan untuk mengidentifikasi masalah atau untuk mempelajari frekuensi, rata-rata, dan penghitungan statistik lainnya. Anda sering menggunakan penelitian deskriptif untuk menguji hipotesis dan menjawab pertanyaan tentang status responden saat ini yang terlibat dalam penelitian

Anda dapat menggunakan dua tipe dasar penelitian deskriptif:

§  Studi longitudinal

Studi ini membuat pengukuran berulang dari subjek yang sama. Mereka memungkinkan Anda untuk mengukur dan memantau perilaku seperti peralihan merek. Pelajaran longitudinal agak sulit dilakukan, karena menuntut subjek Anda membuat komitmen waktu. Komitmen ini seringkali menghalangi partisipasi.

§  Studi cross-sectional

Studi ini berfokus pada pengambilan sampel populasi untuk melakukan pengukuran pada titik waktu tertentu. Jenis khusus studi cross-sectional disebut analisis kohort; analisis ini melacak kumpulan individu yang mengalami hal yang sama

 

Ø  Penelitian kausal

Klasifikasi ini mengeksplorasi pengaruh satu hal pada hal lain secara lebih spesifik pengaruh satu variabel pada variabel lain. Anda dapat menggunakan kelas penelitian ini untuk mengukur dampak perubahan spesifik terhadap norma yang ada. Ini memungkinkan Anda untuk memprediksi skenario hipotetis, dan dirancang untuk mengidentifikasi hubungan sebab-akibat.

 

Lalu terdapat Penelitian Kuantitatif.

            Penelitian kuantitatif dilakukan dengan dua cara utama: melalui survei dan observasi. Survei adalah alat yang fleksibel untuk penelitian kuantitatif karena dapat diberikan kepada responden dalam bentuk tertulis melalui surat, email, di perangkat seluler, atau melalui situs web; mereka juga dapat diatur oleh pewawancara secara langsung (misalnya, di toko atau mal, atau melalui telepon). Rath, Bay, Gill,  & Petrizzi (2014) berpendapat terdapat dua bentuk dalam penelitian kualitatif, yaitu:

1.      Kelompok fokus adalah pertemuan di mana sekelompok kecil yang terdiri dari 8 hingga 12 konsumen, dipimpin oleh seorang moderator, berdiskusi dan menawarkan pendapat tentang produk, layanan, atau topik terkait pemasaran lainnya. Moderator memiliki agenda khusus dan memandu diskusi untuk mencapai tujuan studi, tetapi peserta juga didorong untuk merespons

2.      Wawancara mendalam mirip dengan kelompok fokus tetapi hanya melibatkan satu peserta yang menawarkan pemikiran dan pendapat kepada peneliti. Wawancara, yang biasanya berlangsung antara setengah jam dan satu jam, juga umumnya dilakukan di ruangan dengan cermin satu arah dan peralatan perekam. Tetapi karena hanya ada satu responden, pewawancara dapat menggali lebih dalam perasaan orang tersebut, atau menyajikan beberapa produk atau konsep yang dapat dibandingkan dengan tanggapan subjek.

 

Kesimpulan

Dalam penellitian tentang prilaku konsumen kita dapat memakai berbagai jenis penelitian seperti yang Lake (2009) katakan bahwa terdapat beberapa penelitian seperti riset eksplorasi, penelitian deskriptif dimana dalam penelitian deskriptif terdapat dua tipe dasar yaitu Studi longitudinal dan Studi cross-sectional, yang terakhir adalah penelitian kasual. Lalu dalam penelitian kuantitatif memiliki dua bentuk dalam penelitian kualitatif, yaitu: Kelompok fokus dan wawancara mendalam.

 

Refrensi

Lake, A. L. (2009). Consumer behavior for dummies. Wiley Publishing.

Rath, P. M., Bay, S., Gill, P., & Petrizzi, R. (2015). The why of the buy: Consumer behavior and fashion marketing (2nd ed.). Bloomsbury Publishing.

Solomon, M. R. (2018). Consumer behavior: Buying, having, and being (12th ed.). Pearson.

 

Selasa, 27 Oktober 2020

Proses Pengambilan Keputusan konsumen

 

Saat konsumen membeli produk atau layanan kita, mereka terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Dengan meluangkan waktu untuk memahami kebutuhan dan kekhawatiran pelanggan saat mereka menjalani proses pengambilan keputusan itu, kita dapat meningkatkan peluang untuk memenangkan bisnis mereka. Riset pasar menunjukkan bahwa salah satu masalah utama yang dihadapi bisnis adalah bahwa mereka gagal mendukung pelanggan dalam proses tersebut. Selanjutnya mari kita bahas tentang “Keputusan dalam membeli”

Menurut Lake 2009 dalam bukunya berjudul Consumer behavior for dummies menyatakan  proses pengambilan keputusan memiliki lima tahap dalam setiap pembelian, baik itu produk atau layanan. Karena proses pengambilan keputusan adalah proses kognitif, itu lebih bersifat psikologis.

Ø  Fase 1: Butuh pengakuan dan kesadaran

Dalam fase ini, konsumen mengenali dan menjadi sadar bahwa dia memiliki kebutuhan.

Ø  Fase 2: Mencari informasi

Dalam fase ini, konsumen mulai mencari informasi mengenai solusi untuk kebutuhan yang telah diidentifikasi. Intensitas pencarian tergantung pada apakah pembelian tersebut merupakan masalah besar bagi konsumen (atau bukan masalah besar).

Ø  Fase 3: Mengevaluasi alternatif

Dalam fase ini, konsumen mengevaluasi setiap solusi alternatif untuk menentukan solusi mana yang terbaik untuknya.

Ø  Fase 4: Pembelian

Dalam fase ini, konsumen mengevaluasi di mana dan kapan harus membeli dan melakukan pembelian. Jika kebutuhannya tidak bagus dan solusi yang ditemukan konsumen tidak cukup menarik untuk memotivasi pembelian, konsumen dapat menunda pembelian sampai muncul peluang yang memuaskan.

Ø  Fase 5: Evaluasi pasca pembelian

Dalam tahap ini, konsumen mengevaluasi pembeliannya dan memutuskan apakah dia puas dengan pembelian tersebut. Dia mungkin juga mengalami penyesalan pembeli dalam fase ini.

Selain itu Rath, Bay, Gill, & Petrizzi, 2015 juga berpendapat meskipun konsumen mungkin tidak menyadarinya, kebanyakan orang melalui lima langkah dasar saat membuat keputusan (1) mengenali atau mengidentifikasi masalah, (2) mengumpulkan informasi tentang solusi alternatif, (3) mengevaluasi alternatif, (4) memilih alternatif terbaik, dan (5) mengevaluasi keputusan. Mari kita lihat setiap langkah tersebut secara mendetail.

 

 

1.       Kenali / Identifikasi Masalah atau Kekurangan Sesuatu

Kesadaran masalah terjadi ketika seseorang merasakan ketidakseimbangan antara situasi saat ini ("apa adanya") dan situasi ideal ("seharusnya"). Jika celah ini (jarak antara dua hal yang berlawanan) besar dan penting bagi orang tersebut, dan solusi potensial tersedia, orang tersebut menjadi sadar bahwa pasti ada perubahan.

2.       Kumpulkan Informasi atau Data tentang

Solusi Alternatif Setelah mengidentifikasi masalah, langkah selanjutnya melibatkan pengumpulan informasi tentang cara-cara untuk menghilangkan masalah, sehingga mengurangi ketidaknyamanan. Pengumpulan informasi mencakup pencarian dan pemilihan informasi yang memberikan landasan alternatif untuk membuat keputusan yang baik.

3.      Tinjau / Evaluasi Alternatifnya

Pertama-tama mereka mengidentifikasi beberapa alternatif, dan kemudian menimbang manfaat yang terkait dengan berbagai pilihan sebelum membuat keputusan. Dengan mengumpulkan dan menyaring informasi yang cukup, kita biasanya dapat mengidentifikasi sejumlah alternatif yang layak untuk menjembatani kesenjangan antara apa yang kita miliki (“apa adanya”) dan apa yang kita inginkan (“seharusnya” kita). Selain itu proses review dan evaluasi terdiri dari tiga langkah:

A.    Mencari tahu standar atau pedoman tentang yang menjadi dasar keputusan

B.     Menentukan pentingnya setiap standar atau pedoman

C.     Memprioritaskan (memeringkat) alternatif


4.      Pilih Alternatif Terbaik

Langkah selanjutnya dalam proses pengambilan keputusan adalah evaluasi poin-poin utama pro dan kontra yang membedakan pilihan. Dalam banyak kasus, pemasar, memahami kebutuhan dan keinginan pelanggan target mereka, memberikan pedoman dan pengaruh tersebut kepada konsumen. Michael Solomon, seorang sarjana dan penulis perilaku konsumen terkenal, menyebut fitur yang membedakan atribut penentu pilihan kita dan menyarankan bahwa pekerjaan pemasar dilakukan dengan baik akan sering menghasilkan pendidikan konsumen yang berhasil untuk memilih faktor kunci yang akan digunakan dalam keputusan- proses pembuatan.

5.      Evaluasi Keputusan atau Pembelian

Selama evaluasi pasca pembelian, konsumen menilai apakah produk atau layanan yang mereka beli telah memenuhi, melampaui, atau tidak memenuhi harapan mereka. Situasi seperti yang dijelaskan di atas dapat mengarah pada pembelian yang lain atau pertimbangan ulang atas keputusan pembelian awal. Tujuan pemasar dalam skenario mana pun adalah untuk mengantisipasi dan mengatasi jenis pemikiran umum ini setelah pembelian. Ini dilakukan untuk meningkatkan kepuasan jangka panjang pembeli dan loyalitas pelanggan serta untuk mengurangi pengembalian produk. Pelanggan yang melakukan pembelian ulang menandakan bahwa pengalaman pelanggan positif.

 

 

Kesimpulan

Sebelum membeli suatu barang biasanya kita atau konsumen menentukan apakah dia akan membeli barang tersebut atau tidak. Hal tersebut adalah proses pengambilan keputusan, yang mana menurut Lake 2009 terdapat 5 langkah sebelum pengambilan keputusan yaitu : Fase 1: Butuh pengakuan dan kesadaran,Fase 2: Mencari informasi,Fase 3: Mengevaluasi alternatif,Fase 4: Pembelian, Fase 5: Evaluasi pasca pembelian. Lalu menurut rath, dkk (2015) berpendapat serupa bahwa proses pengambilan keputusan memiliki 5 tahap yaitu : (1) mengenali atau mengidentifikasi masalah, (2) mengumpulkan informasi tentang solusi alternatif, (3) mengevaluasi alternatif, (4) memilih alternatif terbaik, dan (5) mengevaluasi keputusan.

 

 

 

Refrensi

Lake, L. (2009). Consumer behavior for dummies. John Wiley & Sons.

Rath, P. M., Bay, S., Gill, P., & Petrizzi, R. (2014). The why of the buy: Consumer behavior and fashion marketing. Bloomsbury Publishing.

Solomon, M. R. (2018). Consumer behavior: Buying, having, and being (12th ed.). Pearson

 

Selasa, 20 Oktober 2020

 

Pengaruh Sosial

Dalam konteks pemasaran, pengaruh sosial mengacu pada informasi atau tekanan yang diberikan atau diberikan oleh individu, kelompok, atau jenis media kepada konsumen. Variabel dan tekanan terkait (teman, jejaring sosial, pemasar, politisi, TV, radio, dan sebagainya) ikut bermain antara momen stimulasi dan tindakan yang dihasilkan. Misalnya, seorang pemasar yang tertarik untuk mempercepat proses pembelian yang digunakan orang-orang saat membeli mobil baru ingin mengidentifikasi pemicu pembelian yang tepat untuk pelanggan sasaran, menentukan siapa (individu atau kelompok) di sekitar pelanggan target memiliki pengaruh paling besar, jenis pengaruh apa yang mereka berikan, dan bagaimana pengaruh tersebut mempengaruhi pembelian akhir. (Rath, Bay, Pettrizi, Gill, 2015)

Dalam buku Rath, Bay, Pettrizi, Gill (2015) menyebutkan Profesor Psikologi Solomon Asch meneliti tiga tanggapan terhadap pengaruh social. Penemuannya masih berlaku sampai sekarang. Dia mengklasifikasikan tanggapan sebagai berikut:

·         Conformity, yang terjadi ketika seseorang berperilaku seperti orang lain untuk diterima atau merasa seperti "salah satu kelompok"

 

·         Compliance, ketika seseorang memilih untuk melakukan sesuatu karena dia diminta untuk melakukannya; dan

 

·         Obedience, ketika seseorang secara ketat mematuhi perintah dari orang atau kelompok yang berwibawa.

Pengaruh Budaya

Menurut Lake (2009) Proses pengambilan keputusan konsumen, banyak faktor yang berperan. Ada dua kategori pengaruh pribadi mengenai keputusan pembelian. Mereka termasuk yang berikut:

Ø  Pengaruh internal: Pengaruh ini meliputi persepsi, sikap, gaya hidup, dan peran.

 

Ø  Pengaruh eksternal: Pengaruh ini meliputi budaya, subkultur, struktur rumah tangga, dan kelompok yang berpengaruh pada individu.

 

Dikesempatan kali ini saya akan membahas tentang pengaruh eksternal yang mana pengaruh ini meliputi budaya, subkultur dan lain-lainnya

Konsep diri sering diterjemahkan ke dalam gaya hidup seseorang. Secara teknis, gaya hidup seseorang ditentukan oleh campuran pengaruh internal dan eksternal; ini adalah fungsi dari motivasi, pembelajaran, sikap, perilaku, keyakinan, opini, faktor demografis, dan kepribadiannya. Gaya hidup juga mewakili tingkat pendapatan konsumen, budaya, kelas sosial, dan daya beli.(Lake. 2009)

Konsumen dihadapkan pada banyak pengaruh eksternal, termasuk budaya individu, subkultur, struktur rumah tangga, dan kelompok yang berhubungan dengannya. Pemasar dan pemilik bisnis menyebut pengaruh eksternal ini karena sumber pengaruh berasal dari luar orang tersebut dan bukan dari dalam (yang akan berupa pengaruh internal, atau psikologis). Anda juga bisa menyebutnya sebagai pengaruh sosiokultural, karena mereka berevolusi dari hubungan formal dan informal yang dimiliki seseorang dengan orang lain. (Lake. 2009)

Menurut Lake (2009) Budaya adalah standar keunggulan dalam masyarakatnya sendiri. Untuk berpartisipasi dalam budaya tertentu, Anda harus menjunjung tinggi standar budaya tersebut. Individu harus mematuhi standar yang dianggap dapat diterima, dan mereka harus mengikuti standar ini untuk menegakkan keyakinan dan nilai budaya tersebut. Artinya ketika membeli produk Anda, konsumen harus mengevaluasi apakah produk Anda mendukung atau bertentangan dengan kepercayaan dan nilai budaya mereka. Menurut Lake ada 3 keyakinan utama untuk memasarkan produk dengan cara yg efektif dan menarik bagi konsumen. Yaitu :

1.      Norms: Ini adalah aturan dalam budaya yang menunjukkan bentuk perilaku yang dapat diterima dan tidak dapat diterima. Singkatnya, itulah cara budaya melakukan sesuatu. Norma bukanlah rata-rata statistik; mereka terkait dengan standar sosial yang dapat diterima dari perilaku yang sesuai dalam suatu budaya. Mereka mungkin atau mungkin tidak sesuai dengan hukum dan kebijakan; misalnya, mengemudi 5 mil per jam melebihi batas kecepatan yang diposkan merupakan norma umum. Norma memiliki kekuatan yang berbeda, dan konsekuensi dari pelanggaran norma dapat bervariasi. Norma budaya sering kali tertanam kuat dalam kehidupan individu sehingga ia tidak menyadari perilaku tertentu sampai mereka dikontraskan dengan budaya lain yang memiliki norma berbeda.

 

2.      Beliefs: Ini adalah pernyataan mental dan verbal yang mencerminkan pengetahuan dan penilaian khusus konsumen terhadap sesuatu dan yang memengaruhi perilaku individu. Sistem kepercayaan suatu budaya diciptakan melalui cerita atau mitos yang interpretasinya dapat memberikan wawasan kepada konsumen tentang bagaimana mereka seharusnya berpenampilan, merasakan, berpikir, dan berperilaku. Sistem kepercayaan yang paling menonjol cenderung dikaitkan dengan agama formal.

 

3.      Values: Nilai didasarkan pada kepercayaan konsumen. Apa yang dipercaya konsumen adalah apa yang dia anggap berharga. Nilai-nilai konsumen adalah motivasi yang tertanam dalam yang ditanamkan ke konsumen dari budaya. Nilai-nilai budaya membedakan perasaan, pikiran, dan perilaku yang benar dari perasaan, pikiran, dan perilaku yang salah. Rangkaian nilai individu memainkan peran penting dalam aktivitas konsumsi, karena dalam banyak kasus, orang membeli produk dan layanan yang mereka yakini akan membantu mereka mencapai tujuan terkait nilai. Setiap budaya memiliki seperangkat nilai yang ditanamkan kepada anggotanya.

 

Kesimpulan

Pengaruh Sosial Dalam konteks pemasaran, pengaruh sosial mengacu pada informasi atau tekanan yang diberikan atau diberikan oleh individu, kelompok, atau jenis media kepada konsumen.

Pengaruh Budaya Lake(2009) Proses pengambilan keputusan konsumen, banyak faktor yang berperan. Gaya hidup seseorang ditentukan oleh campuran pengaruh internal dan eksternal; ini adalah fungsi dari motivasi, pembelajaran, sikap, perilaku, keyakinan, opini, faktor demografis, dan kepribadiannya. Gaya hidup juga mewakili tingkat pendapatan konsumen, budaya, kelas sosial, dan daya beli.(Lake. 2009)


Referensi:

Lake, L. (2009). Consumer behavior for dummies. John Wiley & Sons.

Rath, P. M., Bay, S., Gill, P., & Petrizzi, R. (2014). The why of the buy: Consumer behavior and fashion marketing. Bloomsbury Publishing.

Solomon, M. R (2018). Consumer behavior: Buying, having, and being. Boston, MA: Pearson